April102014

Karimun Jawa, 28 - 30 Maret 2014. Biarin gendut, biarin item, biarin rambut tidak berbentuk, yg penting hati senang. Tapi sampe sekarang belom bisa move on T.T

10PM
“Sleep tries to seduce me by promising a more reasonable tomorrow.” Elizabeth Smart, By Grand Central Station I Sat Down and Wept (via geizlieb)

(Source: ecouter-bien, via booklover)

April32014

BREAKING NEWS: Tsunami Warning in Papua, Indonesia

allaboutindonesia:

A tsunami warning has been reported in Papua after the recent 8.2 magnitude earthquake in Chile. This earthquake could potentially reach Jayapura, the capital of Papua, Indonesia, 22 hours after the earthquake or around 4.46am on Thursday.

Please reblog to spread awareness. Hoping for the safety of locals and travelers.

(via beingindonesian)

March242014

About Knowing Yourself

As you grow up, you gradually know yourself more and more every day.

Mengingat masa kecil dulu, gue adalah orang yang sangat perfeksionis, tetapi di sisi lain gue juga sangat ingin menyenangkan semua pihak. Gue takut kalo gue jelek di mata mereka, gue gak mau kalau gue mengecewakan mereka. Gak terhitung jumlah kejadian di mana gue selalu jadi korban perasaan, di dalam keluarga, pertemanan bahkan percintaan. I couldn’t stand for myself coz i’m busy to please others.

Gue terlahir sebagai seorang yang temperamental. Sebentar ketawa, sebentar nangis, sebentar marah, omg gue temperamen ato gila ya? Ya pokoknya yang jelas gue sangat emosional. But back then, gue sering sekali menahan amarah dan ujung-ujungnya cuma nangis di bantal. Kalau ada yg bikin kesel, instead of gue ngamuk di depan dia, gue lebih baik nyindir-nyindir bikin dia ga enak sendiri. Why? Karena gue orangnya ga enakan dan pengen selalu menyenangkan orang lain, jadi jatuhnya ga enak marahin orang.

Yang ketiga, semua orang pasti berpikir gue orang yang ekstrovert. Gue pecicilan, bawel, gak bisa diam, nyerocos terus, dll. Kelihatannya sangat sanguin. Ya memang sih ada beberapa orang yg ekstro-intro nya agak-agak tipis bedanya, tapi dulu gue pikir gue sangat ekstrovert. Lalu ketika beranjak dewasa, gue sadar, gue sebenernya socially awkward. Ketika ketemu orang baru, dan orangnya lebih dari 4 orang, gue banyakan diemnya daripada ngomong. Dan semakin gue dewasa, ketemu sama banyak orang membuat gue capek. Waktu-waktu di mana gue bisa mengisi tenaga gue lagi adalah waktu-waktu gue sendiri. Dan wow, ternyata itu adalah ciri-ciri orang introvert, sama sekali gue gak pernah berpikir dulu kalo gue adalah seorang introvert.

See? As you grow up, you just realize some things that make you know yourself  better. Is it important? Jelas, karena terkadang kita gak mengenal diri kita sendiri sehingga kita gak tahu bagaimana treat diri kita untuk terus menerus bisa bahagia. Knowing yourself means helping you too. Seperti contohnya, gue gak pernah sadar sampe ada seseorang yang bilang gue orgnya cuma suka nyenengin orang lain, tapi dalam hati suka sakit hati. Baru gue sadar, dan semenjak itu gue belajar untuk mengubah hidup gue. Gue gak mau terus2an senengin orang tapi diri gue sendiri sakit hati. Gue belajar untuk mengungkapkan rasa tidak suka gue ke orang lain, karena gue tau bahwa people should know what i feel about them. Hal itu membuat gue lebih lega dan drama-drama nangis di bantal bisa dikurangin.

Mengenal diri sendiri bisa jadi lebih susah daripada mengenal orang lain. Tetapi banyak hal bisa dilakukan, misalnya dengan dengerin masukan dari orang lain atau (kalau yg niat) bisa ikut2 psikotes online supaya tau diri kita kayak gimana. It surely takes time, tetapi ketika nanti kita lebih mengenal diri sendiri, kita jadi mudah untuk mengetahui hal-hal yang harus kita lakukan untuk menolong diri kita saat dalam kesulitan. Karena gak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa bantu kita kalau kita gak bantu diri kita sendiri. It is a lifetime process. So, be patient, keep calm & knowing yourself better :)

February192014

Menuju 500 Hari

3 hari lagi menuju 500 hari gue dan dia. Ga kerasa lho, ternyata gue udh jalan sama cowo gue lamaaaa banget. Dulu, gue pernah skeptis sama hubungan ini. Bukan berarti saat ini skeptis gue udah ilang 100%, yah, gue emang terkadang agak-agak gak yakin apalagi kalau udah menyangkut hubungan percintaan. Tapi, WOW, we did it so far so good. Jujur awal-awal emang berat banget, sering ribut, bahkan setelah lewat setahun pun masih sering berantem. Like everyday, like every time. Sampe rasanya capek banget. Tapi kemudian gue sadar kalo banyak hal yang berani gue lakukan ketika gue bersama dia. Gue berani bermimpi lagi, gue berani mengejar mimpi-mimpi gue lagi. Melakukan banyak hal yang udah gak pernah gue mau lakukan lagi.

I found that this post maybe too cheesy. But, for (almost) 500 days with him, I fully realize that I really love him.

February152014
Happy Valentine’s Day, folks! #latepost

Happy Valentine’s Day, folks! #latepost

3PM

Not really a fresh graduate, nor experienced professional

Jadi ya, Januari tahun ini resmi 2 tahun gue lulus dari bangku kuliah.

Kalau mau masukkin lamaran pekerjaan, gue bukanlah seorang fresh graduate lagi karena fresh graduate itu yang pengalaman kerjanya kurang dari 2 tahun. Tapi kalo dianggap seorang profesional berpengalaman, kayaknya gue juga belum masuk kategori itu, karena gue belum merasa profesional dan berpengalaman. Jadi?

Sejujurnya gue gak tahu juga sih. But anyway, pengen deh share masa-masa senang dan susah selama gue kerja. Gue tahu, udah lama banget, semenjak kerja terutama, gue gak pernah nulis. Dan sekarang, gue harus nulis lagi. Gue gak mau kehilangan hobi gue dan kecintaan gue dalam bidang ini. Meskipun isinya cuma curhatan dan kadang gak penting.

Then, see you on the next post!

January142014

What Kind of Life that You Wanna Live?

Where your talents and the needs of the world cross; there lies your vocation - Aristotle

Gue mendapatkan quote itu bukan dalam kelas filsafat, malah waktu gue ibadah Minggu di JPCC beberapa bulan yang lalu. Kalau ga salah tema bulan itu adalah Fruitful, jadi memang tema sebulan itu semua berujung pada bagaimana kita memiliki buah, yaitu berguna bagi sesama kita. Karena sesungguhnya kita baru benar-benar hidup ketika kita memberikan manfaat untuk orang lain.

Disadari atau tidak, kebanyakan dari kita pasti hidupnya self-centered. Gue misalnya. Jaman kuliah dulu, pokoknya setelah lulus kuliah pengen kerja di MNCs, trus pengen banget punya posisi yang strategis, duitnya banyak, wanita karir sukses banget lah pokoknya. Makanya ngebet banget lulus kuliah cepet biar cepet kesampean jadi wanita karir yang sukses. Pengen bisa pake baju dan barang mahal hasil keringat sendiri, hidup enak.

Tapi ya kok baru 2 tahun lulus sudah ga pengen kayak gitu-gitu amat. Dan setelah dikasi quote di atas tadi, gue semakin mikir “kalo lo udah sukses, trus apa?”. Kalau lo sukses, lo yang kaya, ya bisa ngebahagian orang tua dan keluarga lo sih emang, tapi trus dampak lo buat orang lain apa? Okelah perusahaan pasti punya CSR, tapi seberapa besar sih dampak nyata CSR? Buat gue in the end CSR tuh berguna untuk kelangsungan si perusahaan itu sendiri kok, gak pure memang untuk kesejahteraan rakyat. Secara perusahaan itu kan tujuannya buat nyari profit, bukan organisasi sosial yang memang bertujuan untuk membantu masyarakat.

Nah sekarang ini karena belum bisa melakukan apa-apa, sejujurnya gue lagi pengen nyari komunitas or NGO, di mana gue bisa terlibat langsung baik part-time atau full-time biar hidup gue gak gini-gini amat. Gue udah bisa sekolah sampai S1, kayaknya gak cukup deh kalo setiap kebaikan yg gue terima sekarang cuma sekedar gue nikmatin sendiri.

I’m still looking forward for something I can do for others. What about you?

October292013

Fase dalam suatu hubungan

Please read this before:

 http://manampiring17.wordpress.com/2012/08/09/who-or-what-are-you-falling-in-love-with/

Setelah baca, kita sampai ke suatu konklusi bahwa “berbahagialah orang yg bisa mencintai pasangan yang bukan ‘situasi’nya atau mencintai ‘jadwal’ yang udah dibuat atau hal lainnya, tetapi ‘manusia’nya.”

That particular opinion is true but I want to make some point. Terkadang, sebelum mencintai ‘manusia’nya secara utuh, kita sering kali jatuh cinta dulu dengan hal lainnya. Sehingga hal yang mencintai sesuatu karena jadwal atau situasi adalah fase awal orang dalam mencintai pasangannya dan mencintai pasangan secara utuh adalah fase kedua. I’m trying to be honest here, sebelum gw akhirnya bisa jatuh cinta sama pasangan gue yang sekarang, gue akui kalo gue pernah ada di dalam fase pertama karena udah 3 tahun jomblo. Kalau mengacu ke tulisan tadi, I feel miserable for being alone therefore I make a companion with him. I love him because he was the solution of my problem. He was medicine for my disease. 

But after a year, a love for him only as ‘solution’ term isn’t longer exists. The point is, finally I love him as a person. Kurang lebihnya. Baik buruknya. Tetapi, sampai gue ada di tahap ini, gue belum ngerti dia ada di fase mana. Apakah di fase yang sama atau berbeda. Karena terkadang, meskipun gue tau dia ada di samping gue, gue merasa dia jauh dan tidak terjangkau.

Tell me now honey, are we on the same stage in this relationship?

September232013

Ngemeng ngemeng ga penting

I know this already so late but i’m still awake.

Punya pacar itu ga pernah semudah kelihatannya. Dan mungkin tidak sebahagia kedengarannya. Bisa malam mingguan pun rasanya menjadi perbedaan krusial dengan para jomblo, tapi mereka selalu lupa kalau hidup sendiri sebenarnya lebih mudah.

Kalau hidup sendiri lo bisa sesuka hati mau ngapain aja, beda kalo ud pny pcr. Terkadang kebiasaan jelek lo yg plg kecil dan mgkn ga jd masalah ketika itu lo lakukan ke org lain, bs berdampak besar kpd pcr lo sendiri. Gw orgnya sedikit pelupa. Ktika lo ga lakuin sesuatu yg diminta pcr lo, bs jd lo dianggap ga menghargain dia atau apapun itu, pdhl cm krn lo lupa. Males sih, tp mau gimana? Itu kan resiko pacaran. Setelah ud tau kejelekan masing2 ya bs terima ga? Kalo ga bs terima then you shd break up.

Intinya, ketika muncul org baru dlm hidup lo, keseimbangan hidup lo terganggu. Yg tdnya santai aja kalo lupa, plg mentok diamukin temen skrg bs aja dianggap aneh2 sm pacar. Lalu ketika sdh pny pcr carilah keseimbangan hidup itu lagi, misalnya dengan menerima kekurangan dan kelebihan pcr lo. Msh ga seimbang trs? Ga cocok kali sm pcrnya.

Ah enough rambling. Rasanya memang belum plong tp mata ud sepet dan bengkak. Mgkn waktunya tidur. Dahh!

← Older entries Page 1 of 63